Welcome

Welcome to Oya blog..... Thank's to visit...! Jangan lupa? tinggalkan komentar anda...^_^

Sora Kurai (part 4)



Akiko melihat kearah dua pria yang duduk sambil bercerita di meja nomor dua belas itu. Akiko tampaknya hari ini sangat bahagia karena bertemu dengan kedua temannya yang telah lama tidak ditemuinya, Akiko begitu bahagia karena kedua temannya itu bisa membuatnya tersenyum setelah tadi pagi terjadi insiden kemarahan pak Nakimura. Akiko bergegas membawakan pancake dan kopi vanilla hangat untuk kedua temannya itu. Sampai tiba didekat meja itu, Akiko melihat mata Utamara yang begitu aneh, seperti mata yang memberikan sebuah lambing isyarat untuk Akiko. Tetapi hanya seulas senyum Akiko berikan kepada Utamara karena Akiko tidak mengetahui maksud mata Utamara itu.
“hai pelangganku, pancake coklat dan susu vanilla hangat sudah datang” akiko mengatakannya begitu ceria dan penuh semangat. Dan menaruh pesanan Utamara dan Kazuma di atas meja
“terimakasih Akiko, ini luar biasa” sahut Utamara dengan memandang wajah akiko penuh arti
“apa katamu ? ini biasa saja” sahut kazuma menentang ucapan Utamara
“hei hei hei kazuma bisakah kau menerima sedikit saja perkataan  Utamara kulihat dari tadi kau menentang” dengus Akiko sedikit mengerutkan kening
“kau membela ?” kata Kazuma
“tentu saja , Utamara temanku kan , dan temanmu juga”
“hei kalian, sudahlah Akiko aku memang selalu begini dengannya, tapi percayalah kami baik baik saja” utamara memberikan arahan kepada Akiko.
“hahaha lucu sekali, hmm tapi benar juga, percaya lah Akiko, aku jauh mengenalnya” sahut kazuma sedikit menggoda
“hmmm baiklah,” Akiko memberikan senyuman kepada Kazuma
Akiko melihat utamara yang sedang meneguk kopi yang bebrapa menit yang lalu dibawanya.
“hmm rasanya enak , apa kau yang membuatkannnya Akiko” Utamara begitu merasakan dengan penuh pengahayatan
“iya aku yang membuatkannya, tetapi itu memang sudah menjadi resep dari kafe ini”
“kalau begitu lain kali aku akan mencicipi kopi buatan pelayan lain, apakah sama seperti buatan mu” Utamara begitu yakin hanya Akiko yang bisa membuatkan kopi yang enak seperti ini
“wahh pancake coklatnya lebut juga, kau juga yang membuatkannya Akiko” suara Kazuma mengkagetkan
Akiko tersentak tapi bibirnya lansung spontan mengucapkan “ ya aku membuatkannya untuk kalian, teman temanku”
“maukah kau sering membuatkannya untukku?” utamara tiba tiba mengucapkannya kepada Akiko
“apa ?” Akiko lebih kaget lagi mendegarkan Utamara berkata demikian
Utamara sepertinya telah salah tingkah tadinya, dia tidak dapat memendam emosi yang berada dari dasar tubuhnya
“amm…emmm maksudku  untuk kami berdua” Utamara begitu kebingungan dan gugup
“ahh tentu saja aku akan membuatkan untuk teman temanku” balas Akiko dengan senyum cerianya
Tentu saja hal seperti ini membuat jantung Utamara berdetak lebih cepat. Utamara begitu dalamnya memendam perasaan yang selama ini dia pendam. Utamara tidak bisa memandang mata Akiko yang tajam itu. Tetapi disitulah bagi Utamara letak keindahan seorang Akiko , matanya membuat Utamara jatuh , jatuh dalam lumbung yang dinakana cinta. Bisa dikatakan Akiko telah membuatnya merasakan cinta yang begitu dalam. Akankah utamara mendapatkan cinta dari Akiko. Utamara selalu berdoa agar Akiko bisa menjadi miliknya.
“teman teman sepertinya aku harus menyelesaikan pekerjaanku lagi” akiko memberikan seulas senyum kepada kedua pria itu
“hah secepat itu ?” utamara kaget
“ya , nanti pak Nakimura bisa memotong gajiku lagi hahahha”
“tidakkah kau tinggal disini lebih lama lagi” Kazuma memberikan pertanyaan yang membuat akiko menjadi galau
“teman teman sebeanrnya aku pingin bersama kalian disini, tetapi aku harus melaksanakan tugasku, bisa bisa rekan rekanku menganggapku pemalas, dan pak Nakimura bisa marah besar” akiko berkata penuh penyesalan
“baikalh silahkan kau pegi kebelakan” Utamara mengatakannya dengan bijak. Walaupun sebenarnya Utamara menginginkan Akiko selalu berada disisinya.
“yah.. baiklah aku pergi dulu ya teman teman, selamat menikamati sarapan kalian diapagi ini”
“terimakasih Akiko” ucap Kazuma
“ya Akiko selamat bekerja kembali” ucap Utamara yang tidak merelakan Akiko pergi dari sisinya
“bye , sampai jumpa lagi” akiko langsung pergi dari meja itu
Hati Utamara sepertinya begitu sakit setelah Akiko pergi dari tempanya itu. Utamara masih melihat punggung Akiko yang semakin lama semakin menjauh. Dan akhirnya hilang dari pandang mata Utamara. “jangan janga pergi Akiko” desah Utamara dalam hati
****






Tidak ada komentar:

Posting Komentar