Akiko melihat kearah dua pria yang duduk sambil
bercerita di meja nomor dua belas itu. Akiko tampaknya hari ini sangat bahagia
karena bertemu dengan kedua temannya yang telah lama tidak ditemuinya, Akiko
begitu bahagia karena kedua temannya itu bisa membuatnya tersenyum setelah tadi
pagi terjadi insiden kemarahan pak Nakimura. Akiko bergegas membawakan pancake
dan kopi vanilla hangat untuk kedua temannya itu. Sampai tiba didekat meja itu,
Akiko melihat mata Utamara yang begitu aneh, seperti mata yang memberikan
sebuah lambing isyarat untuk Akiko. Tetapi hanya seulas senyum Akiko berikan
kepada Utamara karena Akiko tidak mengetahui maksud mata Utamara itu.
“hai pelangganku, pancake coklat dan susu vanilla
hangat sudah datang” akiko mengatakannya begitu ceria dan penuh semangat. Dan menaruh
pesanan Utamara dan Kazuma di atas meja
“terimakasih Akiko, ini luar biasa” sahut Utamara
dengan memandang wajah akiko penuh arti
“apa katamu ? ini biasa saja” sahut kazuma menentang
ucapan Utamara
“hei hei hei kazuma bisakah kau menerima sedikit saja
perkataan Utamara kulihat dari tadi kau
menentang” dengus Akiko sedikit mengerutkan kening
“kau membela ?” kata Kazuma
“tentu saja , Utamara temanku kan , dan temanmu juga”
“hei kalian, sudahlah Akiko aku memang selalu begini
dengannya, tapi percayalah kami baik baik saja” utamara memberikan arahan
kepada Akiko.
“hahaha lucu sekali, hmm tapi benar juga, percaya lah
Akiko, aku jauh mengenalnya” sahut kazuma sedikit menggoda
“hmmm baiklah,” Akiko memberikan senyuman kepada Kazuma
Akiko melihat utamara yang sedang meneguk kopi yang
bebrapa menit yang lalu dibawanya.
“hmm rasanya enak , apa kau yang membuatkannnya Akiko”
Utamara begitu merasakan dengan penuh pengahayatan
“iya aku yang membuatkannya, tetapi itu memang sudah
menjadi resep dari kafe ini”
“kalau begitu lain kali aku akan mencicipi kopi buatan
pelayan lain, apakah sama seperti buatan mu” Utamara begitu yakin hanya Akiko
yang bisa membuatkan kopi yang enak seperti ini
“wahh pancake coklatnya lebut juga, kau juga yang
membuatkannya Akiko” suara Kazuma mengkagetkan
Akiko tersentak tapi bibirnya lansung spontan
mengucapkan “ ya aku membuatkannya untuk kalian, teman temanku”
“maukah kau sering membuatkannya untukku?” utamara tiba
tiba mengucapkannya kepada Akiko
“apa ?” Akiko lebih kaget lagi mendegarkan Utamara
berkata demikian
Utamara sepertinya telah salah tingkah tadinya, dia
tidak dapat memendam emosi yang berada dari dasar tubuhnya
“amm…emmm maksudku
untuk kami berdua” Utamara begitu kebingungan dan gugup
“ahh tentu saja aku akan membuatkan untuk teman temanku”
balas Akiko dengan senyum cerianya
Tentu saja hal seperti ini membuat jantung Utamara
berdetak lebih cepat. Utamara begitu dalamnya memendam perasaan yang selama ini
dia pendam. Utamara tidak bisa memandang mata Akiko yang tajam itu. Tetapi disitulah
bagi Utamara letak keindahan seorang Akiko , matanya membuat Utamara jatuh ,
jatuh dalam lumbung yang dinakana cinta. Bisa dikatakan Akiko telah membuatnya
merasakan cinta yang begitu dalam. Akankah utamara mendapatkan cinta dari
Akiko. Utamara selalu berdoa agar Akiko bisa menjadi miliknya.
“teman teman sepertinya aku harus menyelesaikan
pekerjaanku lagi” akiko memberikan seulas senyum kepada kedua pria itu
“hah secepat itu ?” utamara kaget
“ya , nanti pak Nakimura bisa memotong gajiku lagi
hahahha”
“tidakkah kau tinggal disini lebih lama lagi” Kazuma
memberikan pertanyaan yang membuat akiko menjadi galau
“teman teman sebeanrnya aku pingin bersama kalian
disini, tetapi aku harus melaksanakan tugasku, bisa bisa rekan rekanku
menganggapku pemalas, dan pak Nakimura bisa marah besar” akiko berkata penuh
penyesalan
“baikalh silahkan kau pegi kebelakan” Utamara
mengatakannya dengan bijak. Walaupun sebenarnya Utamara menginginkan Akiko
selalu berada disisinya.
“yah.. baiklah aku pergi dulu ya teman teman, selamat
menikamati sarapan kalian diapagi ini”
“terimakasih Akiko” ucap Kazuma
“ya Akiko selamat bekerja kembali” ucap Utamara yang
tidak merelakan Akiko pergi dari sisinya
“bye , sampai jumpa lagi” akiko langsung pergi dari
meja itu
Hati Utamara sepertinya begitu sakit setelah Akiko
pergi dari tempanya itu. Utamara masih melihat punggung Akiko yang semakin lama
semakin menjauh. Dan akhirnya hilang dari pandang mata Utamara. “jangan janga
pergi Akiko” desah Utamara dalam hati
****
